Dzikir, Ilmu dan Amal untuk Pemula

Mungkin ada di antara kita yang ingin beramal shalih, akan tetapi di sela-sela kesibukan metropolitan yang hingar bingar ini, hanya tersisa sedikit waktu luang setelah hampir 15 jam digunakan untuk mencari penghidupan supaya bisa hidup sesuai standar Jakarta. Bagaimana tidak, berangkat pagi pukul 5.00 bahkan ada yang sebelum shubuh sudah start pergi ke kantor supaya bisa masuk jam 8.00 dan tidak terjebak macet (sholat shubuhnya dimana ya?). Pulang sore pukul 17.00, lalu karena terjebak macet lagi walhasil sampai rumah pukul 20.00 malam. Lalu mana sisanya untuk ibadah?
Dan ketika mereka hatinya semakin gersang karena kurangnya siraman rohani yang bisa menyuburkan iman mereka, patutlah kiranya kalau mereka berusaha mencari solusinya. Salah satunya ialah dua pilihan berikut yang mudah dilaksanakan di waktu senggang mereka:
 1. Membaca Al Qur'an
2. Berdzikir

Banyak diantara hamba yang lebih mendapatkan manfaat dengan dzikir pada masa-masa permulaan daripada membaca [ilmu]. Karena dzikir akan memberikan pasokan keimanan baginya, sedangkan al-Qur'an memberikan pasokan ilmu; namun terkadang ilmu itu tidak bisa dia pahami. 

Sementara dirinya lebih membutuhkan pasokan iman daripada sekedar pasokan ilmu; dikarenakan ia masih berada pada jenjang permulaan. Meskipun demikian, membaca al-Qur'an dengan disertai pemahaman bagi orang yang cukup mapan imannya adalah jauh lebih utama dengan kesepakatan [para ulama].




footnote: [lihat Qawa'id wa Dhawabith Fiqh Da'wah 'Inda Syaikhil Islam, hal. 202]


 




عن أبي هريرة رضي الله عنه قال قال رسول الله - صلى الله عليه وسلم: ( كَلِمَتَانِ خَفِيفَتَانِ عَلَى اللِّسَانِ ثَقِيلَتَانِ فِي الْمِيزَانِ حَبِيبَتَانِ إِلَى الرَّحْمَنِ سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ سُبْحَانَ اللَّهِ الْعَظِيمِ ) رواه البخاري (6682) ومسلم (2694).
 

di atas adalah 2 kalimat yang singkat, ringan di lisan dan disukai ArRahman (Allah azza wa jall yang maha Pengasih), dan berat nilainya nanti di miizan (timbangan di yaumil akhirah)